Setiap pekerjaan atau profesi pasti mempunyai kode etik sesuai profesinya, dimana kode etik itu bersifat mengikat dan harus dipatuhi bagi setiap pelakunya. Namun, tidak jarang kita menemui berbagai pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh pelaku pekerjaan tersebut.
Sebut saja, Akil Mochtar, mantan ketua Mahkamah Konstitusional (MK) ini terlibat kasus korupsi. Padahal seperti kita tahu, MK adalah lembaga hukum tertinggi di Indonesia tapi justru ketua MK sendiri melakukan pelanngaran hukum terhadap pelanggaran etika yang dilakukan oleh Akil.
Ratu Atut, Gubernur Banten yang juga terseret kasus korupsi yang dilakukannya selama ini akhirnya berhasil diungkapkan KPK. Keluarga Atut yang lain pun ada yang terlibat kasus serupa, yaitu adik kandung Ratu Atut.
Dan kasus terhangat di awal tahun yaitu dugaan korupsi proyek hambalang yang dilakukan Anas Urbaningrum. Setelah kasus ini sempat mandet, akhirnya Anas ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi.
dari ketiga kasus di atas, pelanggaran hukum yang dilakukan oleh para pelaku terjadi karena pelanggaran kode etik yang mereka lakukan dan juga penyalahgunaan jabatan yang dipegang.
Menurut saya, jika setiap orang tidak menjunjung tinggi kode etik dan menyalahgunakan jabatan yang dipegangnya, pelanggaran hukum seperti ini akan terus terjadi di Indonesia atau bahkan hal yang lebih fatal bisa terjadi. Pentingnya rasa tanggung jawab untuk mengemban amanah yang diberikan masyarakat dan menjunjung kode etik bisa menjadi kesadaran tiap individu untuk tidak melakukan pelanggaran hukum dan etika. Sifat ketamakan dan selalu merasa kurang juga harus dihilangkan dari dalam diri. Karena setiap pekerjaan adalah amanah, setiap diri kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungajawabannya. Entah balasannya di dunia maupun dengan cara Tuhan yang lain.
Showing posts with label portofolio. Show all posts
Showing posts with label portofolio. Show all posts
Wednesday, January 15, 2014
Wednesday, November 6, 2013
Review Jurnal Audit
Review Jurnal
Judul Jurnal : Pengaruh
Pengalaman Time Budget Pressure dan Etika Auditor
terhadap Kualitas Audit
Pengarang : Goodman Hutabarat
Tempat terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2012
·
Latar Belakang
Profesi auditor telah
menjadi sorotan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Kasus Enron dan kasus
Worldcom di Amerika dan kasus-kasus audit lainnya membuat kredibilitas auditor
semakin dipertanyakan. Kasus Enron di Amerika yang melibatkan kantor akuntan
publik Arthur Andersen. Pada kasus Enron tersebut terjadi manipulasi laporan
keuangan. Pada laporan keuangan dilaporkan perusahaan mencatat keuntungan 600
juta Dollar AS padahal sebenarnya perusahaan mengalami kerugian. Berdasarkan
hasil pemeriksaan ditemukan ternyata terdapat beberapa pejabat, manajer dan sebagian
besar staf akuntansi Enron adalah mantan auditor di KAP Andersen. Setelah kasus
ini diungkap dan dilakukan penyelidikan, akhirnya KAP Andersen dinyatakan
bersalah karena melakukan hambatan terhadap proses pengadilan melalui
penghancuran dokumen-dokumen yang terkait dengan audit yang mereka lakukan. Kasus
yang menimpa akuntan publik JAS yang diindikasi melakukan kesalahan dalam mengaudit
laporan keuangan PT Great River Internasional, Tbk menyebabkan munculnya
keraguan atas opini audit dan akibatnya masyarakat mengkritik profesi auditor.
Kasus tersebut muncul setelah adanya temuan auditor investigasi dari Bapepam
yang menemukan indikasi penggelembungan akun penjualan, piutang dan aset hingga
ratusan milyar rupiah pada laporan keuangan PT Great River, Tbk yang
mengakibatkan perusahaan tersebut akhirnya kesulitan arus kas dan gagal dalam
membayar
utang. Berdasarkan investigasi Bapepam menyatakan
bahwa akuntan publik yang memeriksa laporan keuangan PT Great River, Tbk ikut
menjadi tersangka. Oleh karenanya, Menteri Keuangan RI terhitung sejak tanggal
28 November 2006 telah membekukan izin akuntan publik JAS selama dua tahun
karena terbukti melakukan pelanggaran terhadap Standar Profesi Akuntan Publik
(SPAP) berkaitan dengan laporan audit atas laporan keuangan konsolidasi PT.
Great River, Tbk tahun 2003.
Tentunya jika hasil laporan
audit tersebut menyebabkan masalah seperti masalah Enron, Worldcom dan PT Great
River, Tbk, hal ini memunculkan keraguan mengenai kualitas audit yang auditor
laporkan. Berdasarkan berbagai kasus audit di atas menimbulkan pertanyaan,
apakah sebenarnya auditor tersebut mampu mendeteksi kecurangan-kecurangan dan
kelemahan penyajian laporan keuangan klien atau sebenarnya mereka mampu
mendeteksinya tetapi tidak mengumumkannya dalam laporan audit. Jika auditor
tidak mampu mendeteksi trik rekayasa yang dilakukan klien maka yang menjadi
inti permasalahannya adalah kompetensi atau keahlian auditor tersebut. Namun
jika yang terjadi akuntan publik ikut mengamankan praktik rekayasa tersebut,
seperti yang terungkap dalam kasus Enron, Andersen, Worldcom dan Great River,
maka inti permasalahannya adalah independensi auditor.
Menurut Libby dan Frederick
(1990) pengalaman yang dimiliki auditor akan mempengaruhi kualitas auditnya,
mereka menemukan bahwa semakin banyak pengalaman auditor semakin dapat menghasilkan
berbagai dugaan dalam menjelaskan temuan audit.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas audit
adalah time budget pressure (tekanan anggaran waktu). Menurut Waggoner et.al
(1991), jika alokasi waktu untuk penugasan tidak cukup, maka auditor
mungkin mengkompensasikan dengan kerja mereka dengan cepat, dan hanya menyelesaikan
tugas-tugas yang penting saja sehingga mungkin menghasilkan kinerja yang tidak efektif.
Dezoort (1998) menyatakan bahwa adalah hal yang umum ditemukan bahwa di bawah
tekanan anggaran waktu, individu cenderung akan bekerja dengan cepat sehingga
akan berdampak pada penurunan kinerjanya.
Konflik dalam sebuah audit akan
berkembang pada saat auditor mengungkapkan informasi tetapi informasi tersebut
oleh klien tidak ingin dipublikasikan kepada umum. Konflik ini akan menjadi
sebuah dilema etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan yang menyangkut
independensi dan integritasnya dengan imbalan ekonomis yang mungkin terjadi di sisi
lainnya. Pengembangan dan kesadaran etis/moral memainkan peran kunci dalam
semua area profesi akuntansi (Louwers et.al, 1997). Akuntan secara terus
menerus berhadapan dengan dilema etika yang melibatkan pilihan antara
nilai-nilai yang bertentangan. Pertimbangan profesional berlandaskan pada nilai
dan keyakinan individu, sehingga kesadaran etika/moral memainkan peran penting
dalam pengambilan keputusan dalam pekerjaan audit (Deis & Giroux, 1992;
Shaub & Lawrence, 1996; Trevino, 1986).
Berdasarkan berbagai teori
kualitas audit dan penelitian-penelitian di atas, maka penelitian ini mencoba
meneliti faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas audit dengan cara
menghubungkan pengaruh pengalaman audit, time budget pressure dan etika
auditor terhadap kualitas audit. Motivasinya adalah ingin mengetahui
faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan kualitas audit. Tujuan
penelitian ini adalah: (a) menguji pengaruh pengalaman, time budget pressure
dan etika auditor secara simultan terhadap kualitas audit. (b) menguji pengaruh
pengalaman, time budget pressure dan etika auditor secara parsial
terhadap kualitas audit.
·
Data yang digunakan
Populasi
yang dipilih dalam penelitian ini adalah auditor yang terdapat dalam KAP yang terdapat
di Jawa Tengah. Pemilihan sampel penelitian dalam penelitian ini menggunakan
metode purposive sampling. Kriteria yang digunakan untuk memilih sampel
penelitian yang dijadikan responden adalah auditor yang berpengalaman dengan
pertimbangan sebagai berikut: (a) pemilihan responden auditor yang berpengalaman
ditujukan untuk menghindari bias antara jawaban auditor yang berpengalaman dan
yang kurang berpengalaman. (b) pemilihan auditor yang berpengalaman dalam penelitian
ini akan memberikan jawaban yang diberikan berdasarkan kondisi nyata yang
dihadapi dan dilakukan auditor di lapangan. Data primer dikumpulkan melalui
kuesioner yang dibagikan kepada responden dengan mendatangi KAP tempat
responden bekerja.
·
Hasil Penelitian
Hasil
pengujian validitas data menunjukkan bahwa semua (enam) item pertanyaan untuk variabel
pengalaman valid. Semua (empat) item pertanyaan untuk mengukur time budget
pressure valid. Sedangkan untuk variabel etika auditor terdapat satu item
pertanyaan untuk dimensi locus of control yang tidak valid sehingga di
keluarkan dari data yang digunakan. Hasil pengujian validitas untuk variabel
kualiatas audit menunjukkan semua pertanyaan valid. Hasil pengujian
reliabilitas menunjukkan bahwa semua variabel yang digunakan reliabel.
Berdasarkan hasil output regresi diperoleh hubungan positif yang kuat
antara pengalaman dengan kualitas audit sebesar 0,664. Hubungan positif yang
sedang antara etika auditor dengan kualitas audit sebesar 0,573, hubungan
positif yang sedang antara pengalaman dengan etika auditor sebesar 0,475.
Hubungan negatif yang sedang antara time budget pressure dengan kualitas audit sebesar
-0,453. Hasil perhitungan menunjukkan koefisien jalur pengalaman terhadap
kualitas audit sebesar 0,485, koefisien jalur time budget pressure terhadap
kualitas audit sebesar -0,286, dan koefisien jalur etika auditor terhadap
kualitas audit sebesar 0,261. Koefisien jalur atau besarnya pengaruh masing-masing
variabel pengalaman dan etika auditor terhadap kualitas audit menunjukkan
pengaruh positif, yang dapat diinterpretasikan bahwa kenaikan pengalaman dan etika auditor
akan meningkatkan kualitas audit. Koefisien jalur time budget pressure terhadap
kualitas audit menunjukkan pengaruh yang negatif, yang dapat diinterpretasikan
bahwa kenaikan time budget pressure dapat menurunkan kualitas audit.
Pengujian hipotesis pertama menggunakan data Fhitung dan Ftabel. Ftabel
untuk tingkat signifikansi 0,05 dan derajat bebas db1 = 3 dan db2 = 85-3-1 =
81, diperoleh F0,05(3,81) = 2,72. Karena Fhitung lebih besar dari Ftabel
(40,692 > 2,72) maka dapat diambil keputusan untuk menolak H0. Berdasarkan hasil
uji empiris diperoleh nilai F untuk model sebesar 40,692 dengan nilai
probabilitas (sig) 0,000. Karena nilai sig < 0,05, maka Ho ditolak dan
pengujian secara individual dapat dilakukan. Dengan demikian hipotesis pertama
dalam penelitian ini (H1) diterima (terbukti), sehingga dapat disimpulkan bahwa
pengalaman, time budget pressure dan etika auditor secara simultan berpengaruh
signifikan terhadap kualitas audit. Pengaruh variabel pengalaman, time budget
pressure dan etika auditor terhadap kualitas audit secara simultan sebesar 60,1
persen, arti dari kesimpulan tersebut adalah bahwa 60,1 persen perubahan
kualitas audit dapat dijelaskan oleh variabel pengalaman, time budget pressure dan
etika auditor, sedangkan 39,9 persen sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang
tidak diteliti dalam penelitian ini.
Pengujian hipotesis kedua menggunakan data t-hitung dan t-tabel.
Berdasarkan hasil perhitungan nilai koefisien jalur variabel pengalaman ke
kualitas audit sebesar 0,485 (t = 6,073; P = 0,000), koefisien jalur benilai
positif (0,485). Pengujian parsial diketahui bahwa untuk variabel pengalaman t-hitung
> t-tabel (6,073 > 1,6639) dan dapat juga dilihat tingkat signifikansi
lebih kecil dari 0,05 (0,000 <0,05). Hasil menunjukkan koefisien jalur
pengalaman ke kualitas secara statistik signifikan (Ho ditolak). Jadi dapat
disimpulkan bahwa pengalaman berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit.
Semakin tinggi pengalaman audit maka semakin tinggi kualitas audit.
Pengujian hipotesis kedua untuk variabel time budget pressure menunjukkan
nilai koefisien jalur time budget pressure ke kualitas audit sebesar -0,285 (t
= -3,894 ; P = 0,000), koefisien jalur benilai negatif (-0,285). Berdasarkan
hasil perhitungan juga diketahui bahwa thitung > ttabel (3,894 >1,6639)
dan dapat juga dilihat tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000 <
0,05). Hasil menunjukkan koefisien jalur time budget pressure ke kualitas audit
secara statistik signifikan (Ho ditolak). Jadi dapat disimpulkan bahwa time
budget pressure berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas audit. Semakin
tinggi time budget pressure maka semakin rendah kualitas audit.
Berdasarkan hasil uji
empiris diperoleh nilai koefisien jalur etika auditor kepada kualitas audit sebesar
0,261 (t = 3,186 ; P = 0,002), koefisien jalur benilai positif (0,261). Hasil
perhitungan juga menunjukkan bahwa thitung > ttabel (3,186 > 1,6639) dan
dapat juga dilihat tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,002 <
0,05). Hasil menunjukkan koefisien jalur etika auditor kepada kualitas audit
secara statistik signifikan (Ho ditolak). Jadi dapat disimpulkan bahwa etika
auditor berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit. Semakin tinggi
etika auditor maka semakin tinggi kualitas audit.
·
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
untuk melihat pengaruh pengalaman audit, time budget pressure dan etika
auditor terhadap kualitas audit yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Pengalaman audit, time
budget pressure dan etika auditor secara simultan berpengaruh signifikan terhadap
kualitas audit. Hal ini berarti bahwa variabel pengalaman audit, time budget
pressure dan etika auditor mampu menjelaskan perubahan dalam kualitas
audit.
2. Pengalaman audit, time
budget pressure dan etika auditor secara parsial berpengaruh terhadap kualitas
audit. Pengalaman audit memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap
kualitas audit, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi
pengalaman audit maka akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan
kualitas audit. Time budget pressure berpengaruh negatif signifikan
terhadap kualitas audit, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi
tekanan anggaran waktu maka akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas audit.
Etika auditor berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit, dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi etika auditor maka akan berpengaruh
terhadap meningkatknya kualitas audit.
·
Keterbatasan
Bagi peneliti berikutnya
perlu meneliti faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kualitas audit yang
dapat meningkatkan atau menurunkan kualitas audit seperti perbedaan
pengetahuan, situasi lingkungan pekerjaan, fee audit, persaingan bisnis auditor
dan perbedaan gender.
·
Nama Pe-review
Nama : Arika Priliani
Kelas : 4 EB 01
NPM : 2120093
Tuesday, June 4, 2013
TOEFL SKILL 1-5
SOFTSKILL, TOEFL SKILL 1-5
A. Skill 1 : Subject and Verbs
Dalam
sebuah kalimat bahasa Inggris, harus ada minimal sebuah Subject (subjek) dan
sebuah Verb (kata kerja).
Contoh 1:
....................was ringing repeatly for hours.
(A) Loudly
(B) In the morning
(C) The alarm
(D) The bells
Analisa:
Ø Kalimat di atas
memiliki Verb yaitu was ringing, tapi tidak memiliki Subject.
Ø Dari pilihan
jawaban; (A) Repeatly dan (B) In the morning salah karena keduanya adalah
adverb. Jawaban (D) The bells juga salah
karena bells adalah plural dan tidak sesuai dengan was ringing yang berbentuk
singular verb. Jawaban terbaik adalah (C) The alarm karena phone singular verb
dan sesuai dengan singular verb was ringing.
Contoh 2:
The milk ……………
every morning and every evening.
(A) delivery
(B) is delivered
(C) on time
(D) regularly
Analisa:
Ø Kalimat diatas
memiliki Subject yaitu Newspapers, tapi tidak memiliki Verb.
Ø Jawaban (A)
delivery, (C) on time dan (D) regularly adalah salah karena mereka bukan verb.
Jawaban (B) is delivered benar karena mereka adalah verb.
EXERCISE 1:
Find the subjects and the verbs in each of the following
sentences. Then indicate if the sentences are correct (C) or incorrect ( I ).
1) My mother
always cooks delicious food for me. ( I )
Analisa:
Ø Subject dari
kalimat ini adalah My mother, tapi tidak memiliki Verb is.
Ø Kalimat yang benar
seharusnya My mother is always cooks
delicious food for me.
2) The football
match schedule has changed since last week. (C)
Analisa:
Ø Kalimat diatas
sudah memiliki Subject The football match sudah memiliki Verb has changed
3) Accidentally
broke the glass on the floor. ( I )
Analisa:
Ø Kalimat diatas
tidak memiliki Subject, tapi memiliki verbs broke.
Ø Kalimat yang benar
seharusnya adalah Accidentally she/he
broke the glass on the floor.
4) The customer paying the waiter for the dish.
(I)
Analisa:
Ø Kalimat diatas
sudah memiliki Subject the customer dan part of verb paying. Kalimat diatas
membutuhkan to be untuk menjadikannya complete verb.
Ø Kalimat yang benar
seharusnya adalah The customer is
paying the clerk for the clothes.
5) The professor gave
the syllabus to the students. (C)
Analisa:
Ø Kalimat diatas
sudah memiliki Subject professor dan Verb gave.
B. Skill 2 : Object of prepositions
An object of prepotition adalah noun (kata benda) atau
pronoun (kata ganti) yang terletak setelah preposition (kata depan), seperti
in, at, of to, by, behind, dan on yang befungsi membentuk sebuah prepositional
phrase.
Contoh 1:
The trip (to the island) (on Sunday) will last (for four
hours).
Kalimat diatas berisi tiga buah object of preposition;
Island sebagai object of preposition dari to; Sunday sebagai object of
preposition dari on dan four hours sebagai object of preposition dari for.
Pada Structure Section TOEFL Test, object of preposition
bisa membingungkan karena banyak yang menduga bahwa object of preposition
adalah subject dari kalimat tersebut.
Contoh 2:
To Yayhi …….. was a big surprise.
(A) really
(B) the party
(C) funny
(D) when
Analisa:
Ø Dari kalimat diatas,
harus dipahami bahwa Yayhi (noun) bukanlah Subject tapi object of preposition
dari To.
Ø Subject dari
kalimat diatas tidak ada, sedangkan Verbnya adalah was.
Ø Karena yang
dibutuhkan adalah Subject, maka jawaban terbaik adalah (B), the party.
Sedangkan (A), (C), dan (D) salah karena mereka bukanlah Subject.
Harus dingat bahwa:
Preposition diikuti oleh noun atau pronoun yang kemudian
disebut object of preposition.
Jika sebuah kata adalah object of preposition, maka kata
tersebut bukanlah sebuah Subject.
EXERCISE 2
1. The title of the film in the cinema
is Fast Furious 6. (C)
Analisa:
Ø The Cinema bukanlah
subject, tapi hanyalah Object of Preposition dari in.
Ø Sedangkan
Subjectnya adalah title dan Verbnya adalah is.
2. By the next meeting of the class
need to bring the laptop.( I)
Analisa:
Ø the class bukanlah
Subject, tapi hanya object of preposition dari of.
Ø Kalimat diatas
tidak memiliki Subject, tapi memiliki verb yaitu need to bring.
Ø Kalimat yang benar
seharusnya By the next meeting of the class they need to bring the laptop.
3. The directions to the exercise on page 25
unclear. (I)
Analisa:
Ø page 25 bukanlah
subject, tapi hanya object of preposition dari on.
Ø Kalimat diatas
memiliki Subject yaitu the directions, tapi tidak memiliki Verb.
Ø Adapun kalimat yang
benar adalah The directions to the exercise on page 25 are unclear.
4. During the week eat lunch in the
school canteen. (C)
Analisa:
Ø the week bukanlah Subject, tapi hanya object of
preposition dari during.
Ø Kalimat diatas tidak memiliki Subject, tapi memiliki Verb
yaitu eat.
Ø Kalimat yang benar mungkin During the week, they eat lunch in the school canteen.
5. In the morning after the concert
was tired.
Analisa:
Ø the concert
bukanlah Subject, tapi hanya object of preposition dari after.
Ø Kalimat diatas
tidak meiliki Subject, tapi sudah memiliki Verb yaitu was.
Ø Kalimat yang benar
adalah: In the morning after the concert she/he
was tired.
C. Skill 3 :
Present Participle
Present Participle adalah verb + ing. Contohnya: studying, driving, cooking. Penggunaan
Present participle pada Structure section TOEFL test seringkali membingungkan
karena fungsinya yang bisa sebagai part of a verb (bagian dari kata kerja) atau
adjective (kata sifat).
1. Sebagai bagian dari kata kerja (Part of a verb)
Present participle (verb+ing) akan berfungsi sebagai part of
a verb jika digunakan bersamaan dengan tobe (am, is, are, was, and were).
Contoh:
The bus is arriving at the halte now.
The students are playing in the yard.
Analisa:
Ø arriving adalah
part of a verb karena ditemani oleh is (to be).
Ø playing adalah part
of a verb karena ditemani oleh are (to be)
2. Sebagai adjective (Kata Sifat)
Present participle (Verb + Ing) berfungsi sebagai adjective
apabila tidak ditemani oleh to be (am, is, are, was and were).
Contoh:
Ø The bus arriving at
the halte now is an hour late.
Ø The students
playing in the yard look very happy.
Analisa:
Ø arriving is
adjective karena tidak ditemani oleh be. Sedangkan, Subject kalimat diatas
adalah bus dan verbnya adalah is.
Ø playing adalah
adjective karena tidak ditemani oleh be. Subject dari kalimat diatas adalah
students dan verbnya adalah look.
EXERCISE 3
Look at the following sentences and Check if they are
correct (C) or incorrect (I).
1. The crying baby needs to be picked
up. (C)
ADJ
Analisa:
Ø Kalimat diatas
sudah benar karena crying berfungsi sebagai adjective.
Ø Subject dari
kalimat diatas adalah baby, sedangkan verb nya adalah needs to be picked up
2. The clothes are lying the floor
should go into the washing machine. (I)
VERB
Analisa:
Ø kalimat diatas
salah karena are lying seharusnya lying
dan berfungsi sebagai adjective bukan bagian dari kata kerja (part of a verb).
Ø Sedangkan kalimat
yang benar adalah The clothes lying the
floor should go into the washing machine.
3. The waiter bringing the lobster dish to
the waiting dinners. (I)
ADJ
Analisa:
Ø Kalimat diatas
salah karena bringing seharusnya is bringing dan berfungsi sebagai part of a
verb bukan adjective.
Ø Kalimat yang benar
seharusnya adalah The waiter is bringing
the lobster dish to the waiting diners.
4. For her birthday, the child is getting a
talking doll. (C)
Analisa:
Ø Kalimat diatas
sudah benar karena getting berfungsi sebagai part of a verb dan setelah
ditambahkan is (to be) menjadi complete verb.
Ø Sedangkan Subject
dari kalimat diatas adalah the child.
5. The setting sun creating a rainbow
of colors in the sky. (I)
Analisa:
Ø Kalimat diatas
salah karena creating harusnya is creating dan berfungsi sebagai part of a
verb.
Ø Kalimat yang benar
seharusnya The setting sun is creating a rainbow of colors in the sky.
D. Skill 4 : Past Participle
Past
participle adalah Verb III dari kata kerja. Contoh: taught, studied, left,
cooked Penggunaan Past Participle pada Structure Questions seringkali
membingungkan karena neniliki dua fungsi, yaitu part of a verb (bagian dari
kata kerja) dan adjective (kata sifat).
1. Sebagai part of a verb
Past participle akan berfungsi sebagai part of a verb
(bagian dari kata kerja) apabila ditemani oleh have, has, had and be (am, is,
are, was, were).
Contoh:
Ø The postman has
left a letter in the mailbox. (Left is part of a verb)
Ø The classes were
taught by Professor Andrew. (Taught is part of a verb)
Analisa:
Ø Pada kalimat
pertama, left adalah bagian dari kata kerja karena ditemani oleh has.
Ø Pada kalimat kedua,
taught adalah bagian dari kata kerja karena ditemani oleh be (were)
2. Sebagai adjective
Past Participle berfungsi sebagai kata sifat (adjective)
apabila tidak ditemani dengan have, has, had atau be (am, is, are, dan were).
Contoh:
Ø The letter left in
the mailbox was for me. (Left is adjective)
Ø The classes taught
by Professor Andrew were very interesting. (Taught is adjective)
Analisa:
Ø left adalah
adjective karena tidak ditemani oleh has/have or to be. SedangkanSubject dari
kalimat pertama adalah The letter dan Verb nya adalah was.
Ø taught adalah
adjective karena tidak ditemani oleh has/have atau to be. Sedangkan Subject dan
verb dari kalimat kedua adalah The classes dan were.
EXERCISE 4
Each of the following sentences contains one or more past
participles. Circle the past participles, and label them as adjectives or
verbs. Then indicate if the sentences are correct (C) or incorrect (I).
1. The food is served in this
restaurant is delicious. (I)
Analisa:
Ø is served harusnya
served saja karena berfungsi sebagai adjective.
Ø Sedangkan Subject
nya adalah The food dan Verb nya adalah Is.
Ø Kalimat yang benar
adalah The food served in this
restaurant is delicious.
2. The plane landed on the deserted
runway. (C)
Analisa:
Ø Subject is The
place and Verb is landed
Ø Deserted
adalah adjective
3. The unexpected guests arrived just
at lunchtime. (C)
Analisa:
Ø unexpected adalah adjective.
Ø Subject nya adalah
guests dan Verb nya arrived.
4. The courses are listed in the
catalogue are required courses. (I)
Analisa:
Ø are listed
seharusnya hanya listed dan berfungsi sebagai adjective bukan part of a verb.
Ø Subject nya adalah
courses dan verbnya are required.
5. The teacher found the lost exam.
(C)
Analisa:
Ø lost adalah
adjective.
Ø Subject nya adalah
teacher sedangkan verbnya adalah found.
E. Skill 5 : Coordinate Connector
Yang
dimaksud dengan Coordinate Connector adalah AND, BUT, OR, or SO. Banyak kalimat
dalam Bahasa Inggris yang terdiri dari dua klausa ( Klausa adalah kelompok kata
yang paling sedikit terdiri dari satu Subject dan satu Verb (Predikat). Ketika
ada dua kalimat dalam Bahasa Inggris, kita harus menggabungkannya dengan benar.
Saalahs atu cara untuk menggabungkan dua buah kalusa adalah dengan menggunakan
AND, BUT, OR, or SO.
Contoh:
1. The sun was shining and the sky was
blue.
2. The sky was blue, but it was very cold.
3. It may rain tonight, or it may be
clear.
4. It was raining outside, so I took
my umbrella.
Analisa:
Keempat kalimat diatas terdiri dari dua klausa dan semuanya
di hubungkan dengan sebuah Coordinate Connector dan sebuah Comma.
Contoh berikut ini akan menunjukan bagaimana Coordinate
Connector di Tes di Structure Questions pada TOEFL Test.
Contoh:
I forgot my umbrella, ____ I got very wet.
(A) then
(B) so
(C) later
(D) as a result
Analisa:
Kalimat diatas memiliki dua
buah klausa: I forgot my umbrella
dan I got very wet. Untuk menghubungkannya, kita harus menggunakan sebuah
Coonector. KataThen (A), later (C), dan as a result (D) bukanlah Connector.
Jadi jawaban terbaik adalah (B) karena so bisa menghubungkan kedua klausa
tersebut dengan benar.
EXERCISE 5
Exercise 5 dibawah ini fokus pada permasalahan Coordinate
Connector. Baca kalimatnya dan tentukan
apakah jawabannya Correct (C) atau Incorrect (C).
1. The lawn needs water every day, or it will turn brown.
(C)
Analisa:
Ø Kedua Klausa diatas
sudah benar, begitu juga dengan Coordinate Connectornya.
2. The novel was not thick, it difficult to read. (I)
Analisa:
Ø Klausa kedua tidak
memiliki verb (is) dan Connector.
Ø Kalimat yang benar
adalah The novel was not thick, but it is difficult to read.
3. It was raining, so decided not to go camping. (I)
Analisa:
Ø Klausa/kalimat
kedua tidak memiliki Subject. Tapi sudah memiliki connector, so.
Ø Kalimat yang benar
seharusnya adalah It was raining, so I
decided not to go camping.
4. The material has been cut, and the pieces have been sewn
together.(C)
Analisa:
Ø Kedua
kalimat/klausa sudah benar begitu juga dengan connectornya
5. The patient took all the medicine, she did not feel much
better.(I)
Analisa:
Ø Kedua
kalimat/klausa diatas sudah benar, tapi belum ada connectornya.
Ø Kalimat yang benar
seharusnya adalah The patient took all
the medicine, but she did not feel much better.
Sumber: http://www.toeflibtpreparation.net/
Subscribe to:
Posts (Atom)